Seni Pasambahan Minangkabau Yang Mulai Tergerus Zaman

  • Whatsapp

Dharmasraya, Marawa – Arus perubahan yang demikian kencang ditunjang perkembangan ilmu dan teknologi menyebabkan banyak hal tergerus, salah satunya seni, tradisi dan budaya yang sesungguhnya memuat nilai-nilai kearifan, di Ranah Minang.

Dunia yang semakin sekat membuat sebagian generasi terbawa arus. Larut dalam nilai-nilai budaya asing dalam pergaulan keseharian.

Hal yang kemudian membuat generasi muda semakin jauh, bahkan mungkin telah tercerabut dari akar adat budaya sendiri, dari kearifan yang telah menciptakan masyarakat Minangkabau dan segala budaya pendukungnya.

Salah satu budaya yang mulai jarang ditemui menurut salah satu Ninik mamak dari suku Caniago Mira Yuscandra Dt Parpatiah adalah tradisi pasambahan atau panitahan.

Pidato pasambahan adalah semacam komunikasi tradisional Minang antara dua pihak yang menjadi juru bicara yang mewakili tamu dalam alek (kenduri) dan mewakili tuan rumah atau biasa disebut si pangka.

Pasambahan merupakan seni berkomunikasi, berdialog antara dua pihak yang mewakili kubu masing-masing. Karena itu adalah seni, maka di dalamnya terajut pemahaman tentang istilah adat itu sendiri, yang terhimpun dalam dialog.

Pasambahan atau panitahan menjadi sebuah cara untuk saling menghormati. Manitah layaknya dari rajo (raja) kepada rakyat, sementara sambah adalah dari hamba kepada raja. Jadi dalam dialog itu ada rasa saling menghormati dengan memposisikan lawan bicara adalah raja dan diri sendiri adalah rakyat, demikian yang terjadi bergantian antara juru bicara tamu dan tuan rumah.

Akan tetapi dalam dialog itu kadang terjadi “ajuak ma ajuak” (saling puji), pantun ma mantun. Bahkan seakan-akan ada semacam berdebat. Padahal tidak. Karena nilai yang dibawakan dalam Pasambahan adalah rasa saling menghormati dan menghargai.

Oleh karena itu baraja pasambahan yang dilakukan sekali sepakan ini di jorong Ranah makmur , Nagari koto gadang , kecamatan koto Besar, Dharmasraya.ujar nya pada Marawa pos, Selasa 02/08/2022.

Dilain sisi salah seorang Ninik mamak dari suku tanjung Mus Mulyadi Dt,Indo Kayo menambah kan,saat nya sekarang untuk para generasi muda Minang Kembali ibarat pinang pada tampuknya, mengembalikan masyarakat pada nilai-nilai kearifan budaya,yang mana mulai tegerus dilanda jaman, timpalnya menutup. (Rahmat)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *