Dilema Banjir di Pusat Kota Lubuk Basung, Martias Menilai Pengakuan Dinas PUPR Agam Bodoh

  • Whatsapp

Marawapost.com, Lubuk Basung
Permasalahan banjir di Kota Lubuk Basung yang notabene sebagai Ibukota Kabupaten Agam selalu menjadi dilema, pasalnya setiap kali hujan turun terjadi genangan air dibeberapa ruas jalan yang berakibat aktifitas warga terganggu. Seperti yang terjadi pada hari Senin (03/08/26) beberapa ruas jalan di kota Lubuk Basung mengalami banjir.

Mengutip dari pemberitaan Kaba12.com terbitan hari Selasa (04/08/26) terkait, “Pengakuan dari Dinas PU tidak adanya anggaran untuk penangan banjir di Lubuk Basung” adalah pengakuan bodoh yang mencerminkan ketidak mampuannya dalam berkoordinasi dan berkomunikasi dengan masyarakat.

Hal ini dikatakan oleh salah seorang tokoh masyarakat Lubuk Basung, Martias, S.Pd kepada media ini via WhatsAppnya, Rabu (05/08/26).

“Terlebih dahulu cari akar permasalahannya, banyak cara yang dapat dilakukan guna penanganan banjir atau setidaknya mengurangi debit air ke jalan di kawasan Padang Baru Lubuk basung sekitarnya”, ujar Martias.

Dikatakan Martias, terlebih dahulu Pemerintah Kabupaten Agam agar mencari akar permasalahannya, jangan hanya dengan mengakui tidak ada anggaran lalu berpangku tangan, temui akar permasalahannya.

Permasalahan :

1. Saat ini banyak toko-toko dikawasan Padang baru sekitarnya air dari atapnya langsung mengalir kejalan.

2. Mendangkalnya drainase sepanjang aliran SMP3, Dinkes, Capil, Dinsos, Bpbd, Dishub, Perkim, DPMPTSP, Kemenag, SDN 63, KPU, Statistik dan kembali ke Dinkes akibat endapan pasir.

3. Tidak berfungsinya secara maksimal gorong – gorong trotoar karena kecilnya diameter gorong – gorong tersebut dan lain sebagainya.

Solusi jangka pendek :

1. Panggil para pemilik/beritahu pemilik toko agar air dari atap ditampung dengan paralon lalu dialiran ke bandar/kali/ drainase.

2. Bebankan kepada setiap Dinas dan instansi untuk mengorek dan membersihkan drainase sepanjang pekarangan masing – masing agar digorokan.

3. Perbesar diameter gorong – gorong trotoar.

“Untuk penanganan jangka panjang, memang membutuhkan anggaran yang cukup besar, namun itu harus dianggarkan”, tutur Martias.

Martias menyebutkan seedikit sejarah tentang bandar yang membentang dari Balai Ahad Lubuk Basung sampai ke Pulai yang membelah Padang Baru.

Pada era tahun 70 an sampai awal tahun 90 an sebelum kepindahan ibu kota Kabupaten amAgam ke Lubuk Basung, bandar tersebut cukup lebar dan dalam sebagaimana bandar saat ini di Balai Ahad (depan masjid salman) lebar ±2,5 m kedalaman ±2 m.

Namun setelah era tahun 90 an setelah kepindahan ibu kota Kabupaten Agam ke Lubuk Basung, bandar tersebut dirobah menjadi lebar ±1 m dengan kedalaman ±1 m mulai dari Sitingkah tangah sampai Padang baru.

Yang secara logika tidak mungkin akan mampu menampung debit air yang besar dari bandar Balai Ahad.

Solusi jangka panjang :

1. Tambah kedalaman bandar dari Sitingkah Tangah sampai Simpang Ampek Sport Center.

2. Buat pintu air pengendali banjar untuk pembuangan/ mengalirkan air ke bandar simpang tembok, dengan sebelumnya membenahi drainase menuju simpang tembok.

“Yang secara teknis tentu Dinas PU yang lebih paham dan mengerti. Dirasa akan mengurangi debit air kejalan, semoga bermanfaat”, ungkap Martias.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Agam, Ofrizon, ST ketika dikonfirmasi media online marawapost.com via WhatsAppnya, Rabu (05/08/26) mengatakan, penangulangan banjir Lubuk Basung sudah kita rencanakan ditahun 2023, namun kita masih terkendala lahan dan pembiayan.

Dikatakannya, kita tetap berupaya memprogram dalam kegiatan di Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang.

“Salah satu penyebab tambahan banjir adalah kebiasan masyarakat yang membuang sampah kedalam saluran, megakibatkan saluran menjadi tersumbat”, ungkap Ofrizon mengakhiri. (RieL)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *