Dituding Marak PETI dan Puluhan Alat Berat, Warga Muaro Sungai Lolo: ‘Buktikan, Jangan Asal Tuding!’

  • Whatsapp

Marawapost.com, PASAMAN — Pemberitaan LintangPena.com berjudul “Marak PETI di Pasaman Timur: Puluhan Alat Berat Merusak Muaro Sungai Lolo, Masyarakat Minta Tindakan Tegas” menuai bantahan keras dari masyarakat Nagari Muaro Sungai Lolo, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kabupaten Pasaman.

Pemerintah Nagari, Ketua KAN, niniak mamak, Imam Khatib, tokoh pemuda dan masyarakat menegaskan tidak pernah memberikan izin kepada pihak mana pun untuk melakukan aktivitas pertambangan emas di wilayah tersebut.

Bacaan Lainnya

“Tidak benar ada kegiatan tambang emas di Muaro Sungai Lolo. Belum pernah ada izin dari niniak mamak, baik untuk tambang legal maupun ilegal. Kalau memang ada, buktikan di mana lokasinya dan siapa yang memberikan izin,” tegas Warman By Runcing, Minggu (2/8/2026).

Warman mengaku pulang ke kampung halaman setelah membaca pemberitaan tersebut untuk memastikan langsung kondisi di lapangan, termasuk klaim mengenai PETI dan puluhan alat berat yang disebut beroperasi di Muaro Sungai Lolo.

Menurutnya, adat dan peran niniak mamak masih kuat. Jangankan menambang, membuka kebun saja tanpa izin niniak mamak, masyarakat tidak akan berani.

“Adat di Tujuh Koto Kampar masih menjadi tungkek di siang hari, banta di malam hari,” ujarnya.

Warman menyebut bantahan tersebut juga mewakili Ketua KAN, niniak mamak, Imam Khatib, Wali Nagari beserta perangkat, tokoh pemuda dan masyarakat Muaro Sungai Lolo.

Masyarakat mempertanyakan dasar informasi mengenai keberadaan puluhan alat berat tersebut. Mereka meminta media melakukan cek fakta dan konfirmasi langsung sebelum menyampaikan informasi yang menyangkut nama baik nagari.

“Kami tidak anti pers. Tapi kalau disebut ada PETI dan puluhan alat berat, datang ke lapangan, cek dan konfirmasi. Jangan sampai masyarakat kami dicap melakukan sesuatu yang tidak pernah terjadi,” tegas Warman.

Masyarakat berharap persoalan ini dibuka secara terang. Jika memang ada aktivitas PETI, mereka meminta fakta dan lokasi dijelaskan. Namun jika tidak sesuai kondisi lapangan, mereka meminta informasi tersebut diluruskan.

“Kami ingin semuanya berdasarkan fakta. Kalau memang ada, buktikan. Kalau tidak ada, jangan buat masyarakat kami seolah-olah melakukan sesuatu yang tidak pernah terjadi,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *