Babimba Menggetarkan Pasaman: Saat Adat dan Syarak Menyatu, Jati Diri Bangkit

  • Whatsapp

Marawapost.com, Pasaman — Semangat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah benar-benar terasa hidup dalam Festival Sapuluah Induak Alek Anak Nagari (Babimba) yang mengguncang Nagari Tanjung Beringin, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Minggu (19/4/2026).

Tak sekadar meriah, festival ini menjelma menjadi panggung besar kebangkitan identitas budaya Minangkabau. Ribuan masyarakat tumpah ruah, menyatu dalam balutan adat dan nilai religius yang kental, mulai dari ninik mamak, alim ulama, hingga generasi muda yang antusias menyaksikan warisan leluhur kembali berdenyut.

Bacaan Lainnya

Kehadiran Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Donizar, makin menguatkan gaung acara. Ia tak ragu menyebut Babimba sebagai kekuatan budaya yang layak “naik kelas”.

“Ini bukan sekadar festival, ini benteng peradaban. Di tengah gempuran modernisasi, masyarakat Pasaman mampu menjaga marwah adatnya. Ini luar biasa,” tegas Donizar disambut tepuk tangan warga.

Lebih jauh, ia mendorong agar Festival Babimba dipoles menjadi event berskala nasional. Bahkan, sebagai bukti komitmen, Donizar menggelontorkan dukungan pokok pikiran (pokir) sebesar Rp500 juta untuk pengembangan kegiatan tersebut.

Tak berhenti di situ, ia juga membuka peluang lebih luas dengan menghadirkan tenaga ahli Anggota DPR RI guna mengakselerasi dukungan program bagi Pasaman.

Sorotan tajam juga diarahkan pada generasi muda. Donizar mengingatkan bahwa masa depan adat Minangkabau ada di tangan mereka.

“Anak nagari harus paham jati dirinya. Sistem berninik mamak dan kedekatan dengan alim ulama adalah kunci agar kita tidak hanyut oleh pengaruh negatif zaman,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesenian dan Diplomasi Budaya Dinas Kebudayaan Sumbar, Nurdayanti, turut mengapresiasi tinggi pelaksanaan festival ini. Ia menilai Babimba bukan hanya tontonan, melainkan gerakan nyata pelestarian budaya berbasis masyarakat.

“Ini energi besar. Adat dan syarak berjalan beriringan, menjadi fondasi kuat membentuk karakter generasi muda,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung Dikie Pano, tradisi khas Pasaman yang telah diakui secara nasional, sebagai bukti bahwa komitmen masyarakat menjaga budaya mampu menembus panggung lebih luas.

Dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Pasaman, Camat Lubuk Sikaping, Wali Nagari, hingga tokoh masyarakat, Festival Babimba tahun ini menjadi sinyal kuat: Pasaman siap tampil sebagai episentrum budaya Minangkabau.

Kini harapannya jelas, Babimba tak lagi sekadar agenda seremonial, melainkan menjelma menjadi ikon budaya yang mampu menggema hingga tingkat nasional.

“Ini identitas kita. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?” tutup Nurdayanti, menegaskan semangat yang terus menyala dari Ranah Pasaman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *