Hadiri Silaturahmi Akbar Ranah jo Rantau Matur Hilia 2026, Syatria: Jadikan ini Edukasi Bagi Generasi Muda

  • Whatsapp

Marawapost.com, Agam – Hadiri Asisten III Setda Agam, Syatria, menghadiri kegiatan Silaturahmi Akbar Ranah jo Rantau Matur Hilia 2026 yang mengusung tema “Basamo Mambangun Kampuang, Maikek Tali Persaudaraan” di Lapangan Hijau Matur, depan Kantor Camat Matur, Senin (23/03/26).

Dalam kesempatan itu, Syatria secara resmi membuka Lomba Marandang “8 Jorong 8 Kuali” yang ditandai dengan pemukulan beduk. Ia juga melantik pengurus Ikatan Keluarga Matua Hilia (IKAMAHI) melalui prosesi serah terima bendera.

Ketua panitia, Abdul Arif, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antara masyarakat ranah dan rantau, sekaligus mengenalkan serta melestarikan tradisi marandang kepada para perantau.

Ia menjelaskan, delapan jorong yang ikut serta dalam lomba marandang tersebut yakni Jorong Matur Katik, Aia Sumpu, Batu Baselo, Aia Taganang, Pasar Matur, Banda Gadang, Labuang Lurah Taganang, dan Batu Siriah.

Sementara itu, Syatria menyampaikan,kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda mengenai tradisi Minangkabau, khususnya dalam pembuatan rendang.

“Ini merupakan kegiatan yang istimewa, di mana para bundo kanduang mengajarkan resep dan tata cara membuat rendang kepada para perantau yang pulang ke kampung halaman. Dengan demikian, tradisi ini dapat terus diwariskan kepada generasi penerus, baik di kampung maupun di perantauan,” ujarnya.

Ditambahkan,kegiatan ini juga memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di Kecamatan Matur, terutama Matua Hilia.

“Dengan dukungan lokasi yang memadai serta kehadiran para perantau, baik dari dalam maupun luar daerah, ini dapat menjadi peluang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” ulasnya.

Syatria berharap kegiatan marandang ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga mampu mempererat silaturahmi serta meningkatkan potensi Kecamatan Matur, khususnya Matua Hilia, sebagai destinasi persinggahan atau rest area bagi para pelancong dan perantau.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi yang lebih erat antara masyarakat di kampung (ranah) dan perantau (rantau).

“Melalui komunikasi yang baik, para perantau dapat turut mempromosikan rendang khas kampung halamannya. Dengan begitu, diharapkan mereka dapat membantu meningkatkan taraf perekonomian masyarakat di daerah asal,” tuturnya.

Di akhir penyampaiannya, Syatria berharap kegiatan ini dapat terus berkembang dan dilaksanakan dengan lebih meriah di masa mendatang. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *