Langkah Senja Menuju Surga: Kisah Haru Dasiar Boer Berhaji di Usia 84 Tahun

  • Whatsapp

Marawapost.com, PASAMAN — Di tengah haru pelepasan ratusan calon jemaah haji, sosok renta itu berdiri tegak. Langkahnya pelan, namun tekadnya tak tergoyahkan. Dialah Dasiar Boer Burhanudin, 84 tahun, warga Bonjol, yang menjadi jemaah haji tertua Kabupaten Pasaman tahun ini.

Bagi Dasiar, usia bukan batas. Semangatnya menunaikan rukun Islam kelima justru menyala di penghujung usia. “Alhamdulillah, bisa berangkat. InsyaAllah diberi kekuatan sampai kembali ke Pasaman,” ujarnya lirih, penuh syukur.

Bacaan Lainnya

Perempuan asal Padang Gantiang, Kumpulan Bonjol itu menunggu selama 13 tahun untuk berangkat ke Tanah Suci. Penantian panjang itu kini terbayar, saat ia bergabung bersama 193 jemaah lainnya menuju perjalanan spiritual seumur hidup.

Meski menyandang predikat tertua, Dasiar menolak diperlakukan istimewa. Ia ingin menjalani seluruh rangkaian ibadah seperti jemaah lain—mandiri, tanpa keluhan.

Sejak muda, Dasiar dikenal sebagai pekerja keras dan aktif di kegiatan sosial, terutama di posyandu kampungnya. Dari hasil jerih payah yang ditabung sedikit demi sedikit, ditambah dukungan keluarga, ia akhirnya mampu memenuhi panggilan suci.

“Saya kumpulkan sendiri, dibantu sanak saudara. Alhamdulillah bisa berangkat,” tuturnya dengan senyum tenang.

Soal kondisi fisik, ia tak banyak mengeluh. Makanan pun dilahap tanpa pilih-pilih, kecuali kacang yang dihindari karena asam urat. Selebihnya, ia merasa cocok dengan menu yang disediakan.

Dasiar baru mengetahui dirinya sebagai jemaah tertua saat diumumkan dalam prosesi pelepasan di Masjid Agung Pasaman. Namun, hal itu tak menjadi beban—justru menambah rasa syukurnya sebagai tamu Allah.

Baginya, usia panjang adalah anugerah. Di Tanah Suci, ia ingin menuntaskan satu hal: bersujud penuh cinta dan terima kasih kepada Sang Pencipta.

Pemerintah Kabupaten Pasaman bersama Kementerian Haji dan Umrah terus meningkatkan layanan, khususnya bagi jemaah lansia. Skema seperti murur, tanazul, dan safari wukuf disiapkan untuk memastikan ibadah berjalan aman dan nyaman.

Kepala Kantor Kemenhaj Pasaman, Mukhsinin, menyebut kisah Dasiar sebagai inspirasi. “Ini bukti bahwa niat kuat tak akan terhalang usia maupun waktu. Yang penting tetap sabar menunggu panggilan Allah,” ujarnya.

Kisah Dasiar Boer bukan sekadar perjalanan ibadah. Ia adalah potret keteguhan, kesabaran, dan cinta yang tak lekang oleh usia—bahwa menuju Baitullah, sejatinya adalah perjalanan hati.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *