{"id":32130,"date":"2026-04-26T12:23:26","date_gmt":"2026-04-26T12:23:26","guid":{"rendered":"https:\/\/marawapost.com\/?p=32130"},"modified":"2026-04-26T12:23:26","modified_gmt":"2026-04-26T12:23:26","slug":"wabup-agam-hadiri-pacu-kuda-wisata-derby-agam-bukittinggi-tahun-2026-bukik-ambacang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/marawapost.com\/?p=32130","title":{"rendered":"Wabup Agam Hadiri Pacu Kuda Wisata Derby Agam \u2013Bukittinggi Tahun 2026 Bukik Ambacang"},"content":{"rendered":"<p><strong>Marawapost.com, Agam<\/strong> &#8211; Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal SE MCom, hadiri ajang Pacu Kuda Wisata Derby Agam \u2013Bukittinggi Tahun 2026 yang digelar di Galanggang Bukik Ambacang, Minggu (26\/04\/26).<\/p>\n<p>Kegiatan bergengsi ini secara resmi dibukaWali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Wakil Bupati Agam sebagai simbol dimulainya perlombaan.<\/p>\n<p>Event tahunan ini berlangsung meriah dengan diikuti puluhan joki dari berbagai daerah di Sumatera Barat, bahkan hingga luar Pulau Sumatra.<\/p>\n<p>Antusiasme peserta dan penonton terlihat sejak pagi hari, memenuhi arena pacuan yang telah lama dikenal sebagai salah satu gelanggang pacu kuda legendaris di ranah Minangkabau.<\/p>\n<p>Galanggang Bukik Ambacang sendiri memiliki nilai historis yang tinggi. Tradisi pacu kuda di daerah ini telah berlangsung jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia dan menjadi olahraga favorit masyarakat Minangkabau.<\/p>\n<p>Hingga kini, tradisi tersebut tetap terjaga dan terus diminati, karena selain sebagai ajang olahraga, pacu kuda juga menjadi hiburan rakyat yang meriah dan terjangkau.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Agam menyampaikan bahwa pacu kuda bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan.<\/p>\n<p>Ia menegaskan bahwa sebagai permainan tradisional yang telah berkembang menjadi olahraga nasional, pacu kuda memiliki akar sejarah panjang yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cTradisi pacu kuda ini merupakan identitas budaya kita yang tidak ternilai. Oleh sebab itu, perlu kita jaga dan lestarikan agar tetap hidup di tengah masyarakat, sekaligus menjadi kebanggaan daerah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ditambahkan, selain berorientasi pada prestasi, event ini juga memiliki potensi besar dalam mendorong sektor pariwisata.<\/p>\n<p>Melalui kegiatan ini, keunikan budaya dan tradisi lokal dapat dipromosikan kepada wisatawan, sehingga mampu menghidupkan kembali geliat pariwisata di Sumatera Barat, khususnya di wilayah Agam dan Bukittinggi.<\/p>\n<p>Sementara itu, Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menjelaskan bahwa pacu kuda wisata derby merupakan agenda tahunan yang telah masuk dalam kalender pariwisata daerah.<\/p>\n<p>Pada tahun ini, sebanyak 80 ekor kuda ambil bagian dalam 19 race yang telah disusun oleh panitia bersama tim steward.<\/p>\n<p>Ia mengungkapkan, panitia menyediakan tiga kategori lomba tanpa biaya pendaftaran atau insert, yakni draf bogie, sagalo, dan pemula.<\/p>\n<p>Dari total 19 race yang dipertandingkan, delapan di antaranya digratiskan bagi peserta sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan olahraga pacu kuda di daerah.<\/p>\n<p>\u201cTotal ada 19 race dengan berbagai kelas, mulai dari kelas tradisional draf bogie hingga puncaknya kelas paling bergengsi, yaitu Derby 1.700 meter yang diikuti tiga kuda terbaik Sumatera Barat,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Melalui penyelenggaraan event ini, diharapkan dapat melahirkan bibit-bibit kuda unggul serta joki-joki handal yang mampu berprestasi, baik di tingkat regional maupun nasional, sekaligus memperkuat eksistensi pacu kuda sebagai olahraga tradisional yang terus berkembang di Sumatra Barat, khususnya Agam dan Bukittinggi. (*)<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Marawapost.com, Agam &#8211; Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal SE MCom, hadiri ajang Pacu Kuda Wisata&nbsp;[&hellip;]<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":32131,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-32130","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-agam"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32130","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=32130"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32130\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32132,"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32130\/revisions\/32132"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/32131"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=32130"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=32130"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=32130"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/marawapost.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=32130"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}