Marawapost.com, Agam – Dinas Pertanian Kabupaten Agam terus berupaya mempercepat pemulihan sektor pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi pada November 2025 lalu. Salah satu langkah yang dilakukan yaitu membangun infrastruktur irigasi perpipaan di 27 titik yang tersebar di enam kecamatan, dengan dukungan anggaran mencapai lebih dari Rp2,5 miliar.
Program tersebut diarahkan untuk memastikan lahan pertanian yang mengalami gangguan akibat bencana kembali memperoleh dukungan pengairan, sehingga aktivitas bercocok tanam masyarakat dapat berangsur normal.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Heri Prasetyo Wibowo, mengatakan pembangunan jaringan irigasi perpipaan menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memulihkan produktivitas pertanian setelah bencana melanda sejumlah wilayah.
Menurutnya, sektor pertanian merupakan salah satu bidang yang turut mengalami dampak akibat bencana. Karena itu, penyediaan kembali infrastruktur pendukung menjadi langkah penting agar petani dapat melanjutkan kegiatan usaha taninya.

“Pembangunan irigasi perpipaan ini diprioritaskan untuk lahan pertanian yang terdampak bencana alam, dengan sasaran 27 titik yang tersebar di sejumlah kecamatan,” ujar Heri Prasetyo Wibowo ketika dikonfirmasi media ini dikantornya, Kamis (17/09/26).
Dijelaskan Heri, sebanyak 27 unit irigasi perpipaan yang dibangun tersebut diproyeksikan mampu mendukung pengairan lahan pertanian dengan total luas sekitar 400 hektare.
Kapasitas layanan setiap unit berbeda, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan lahan pertanian di masing-masing lokasi. Satu unit irigasi perpipaan diperkirakan mampu mengairi areal pertanian seluas 10 hingga 25 hektare.
Pembangunan infrastruktur pengairan tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi gangguan sistem pengairan yang dialami lahan pertanian akibat bencana, sekaligus mendukung petani dalam kembali mengoptimalkan lahan yang dimiliki.
Heri menambahkan, seluruh tahapan pembangunan irigasi perpipaan tersebut telah rampung pada akhir Juli 2026. Dengan selesainya pengerjaan, pemerintah berharap infrastruktur yang telah disediakan dapat segera dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok tani.
“Alhamdulillah, tahapan pengerjaan irigasi perpipaan ini secara keseluruhan telah dituntaskan pada akhir Juli 2026 kemarin. Kami berharap program pemulihan ini dapat dimanfaatkan oleh petani,” tuturnya.
Lebih lanjut diterangkan Heri, pembangunan infrastruktur pengairan tersebut tersebar di Kecamatan Canduang, Baso, Malalak, Tanjung Raya, Matur, dan Palembayan.
Enam kecamatan tersebut menjadi lokasi pelaksanaan program pembangunan irigasi perpipaan yang ditujukan untuk mendukung pemulihan lahan pertanian terdampak bencana.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah menerapkan mekanisme swakelola dengan melibatkan kelompok tani sebagai pelaksana kegiatan. Pola tersebut dipilih agar masyarakat, khususnya kelompok tani penerima manfaat, tidak hanya menjadi penerima hasil pembangunan, tetapi juga terlibat secara langsung dalam pengerjaan infrastruktur di wilayah masing-masing.
“Mekanisme swakelola sengaja diterapkan agar masyarakat dapat terlibat langsung dalam proses pembangunan infrastruktur pertanian di wilayahnya masing-masing,” jelas Heri.
Melalui keterlibatan kelompok tani dalam proses pembangunan, pemerintah berharap masyarakat dapat ikut menjaga dan memanfaatkan infrastruktur irigasi tersebut secara berkelanjutan untuk mendukung kegiatan pertanian.
Secara keseluruhan, pembangunan 27 unit irigasi perpipaan tersebut dibiayai dengan anggaran lebih dari Rp2,5 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Setiap unit pembangunan mendapat alokasi anggaran sekitar Rp4,6 juta, sesuai keterangan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam.
Dukungan anggaran tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menyediakan kembali sarana dan prasarana pertanian yang mengalami gangguan akibat bencana hidrometeorologi.
Pemerintah Kabupaten Agam berharap keberadaan jaringan irigasi perpipaan ini dapat menjadi salah satu penopang pemulihan sektor pertanian, sekaligus membantu petani kembali meningkatkan produktivitas lahan yang terdampak bencana.
Dengan tersedianya dukungan pengairan, lahan pertanian yang sebelumnya mengalami kendala diharapkan dapat kembali dimanfaatkan secara optimal, sehingga kegiatan usaha tani masyarakat dapat berjalan secara bertahap menuju kondisi normal.
Program pembangunan irigasi perpipaan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat sarana produksi pertanian dan mendukung pemulihan ekonomi masyarakat yang menggantungkan penghidupan dari sektor pertanian pascabencana. (RieL)

