Percepat Pemulihan Pertanian Pascabencana, Dinas Pertanian Agam Bangun 35 Dam Parit Senilai Rp4,2 Miliar

Marawapost.com, Agam – Dinas Pertanian Kabupaten Agam terus melakukan berbagai upaya untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian, khususnya lahan persawahan masyarakat yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi beberapa waktu lalu. Salah satu langkah nyata yang dilakukan pada tahun 2026 adalah melaksanakan pembangunan 35 paket Dam Parit yang tersebar di 15 kecamatan di Kabupaten Agam Sumatera Barat.

Program yang bersumber dari APBN Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung rehabilitasi lahan sawah sekaligus mempercepat peningkatan indeks pertanaman di daerah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Heri Prasetyo Wibowo, SP, didampingi Kepala Bidang Prasarana, Sarana Pertanian dan Penyuluhan, Yasriandi, saat dikonfirmasi media online marawapost.com dikantornya, Selasa (21/07/26), membenarkan bahwa pada tahun ini pihaknya mengerjakan sebanyak 35 paket pembangunan Dam Parit.

“Benar, pada tahun 2026 ini Dinas Pertanian Kabupaten Agam melaksanakan pembangunan Dam Parit sebanyak 35 paket yang tersebar di 15 kecamatan di Kabupaten Agam. Seluruh pekerjaan dilaksanakan secara swakelola oleh kelompok tani setempat,” ujar Heri.

Menurutnya, pembangunan Dam Parit merupakan salah satu infrastruktur pendukung utama dalam kegiatan rehabilitasi sawah, terutama pada kawasan yang mengalami kerusakan akibat bencana alam.

Ia menjelaskan, hingga pertengahan Juli 2026 progres pekerjaan secara keseluruhan telah mencapai 84,37 persen dan ditargetkan seluruh paket pekerjaan selesai 100 persen pada akhir Juli 2026.

“Kita menargetkan pada bulan Juli 2026 seluruh pekerjaan pembangunan Dam Parit ini selesai seluruhnya. Saat ini progres fisik secara keseluruhan sudah mencapai 84,37 persen,” jelasnya.

Setiap paket pembangunan memiliki nilai anggaran sebesar Rp120 juta, sehingga total anggaran yang dikucurkan melalui APBN Kementerian Pertanian mencapai sekitar Rp4,2 miliar.

Dana tersebut, kata Heri, langsung disalurkan kepada kelompok tani pelaksana sesuai mekanisme swakelola sehingga masyarakat petani ikut berperan aktif dalam pembangunan infrastruktur pertanian di wilayahnya masing-masing.

“Pengerjaan dilakukan langsung oleh kelompok tani, termasuk penyaluran dana dilakukan kepada masing-masing kelompok tani sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.

Lebih lanjut Heri mengatakan, sebagian besar lokasi pembangunan Dam Parit berada di kawasan bekas terdampak banjir bandang dan longsor yang menyebabkan rusaknya saluran irigasi menuju areal persawahan masyarakat.

Dengan dibangunnya Dam Parit tersebut, diharapkan distribusi air menuju lahan pertanian kembali normal sehingga petani dapat segera melakukan percepatan masa tanam.

“Apabila seluruh pembangunan Dam Parit ini telah selesai, maka penyaluran air menuju sawah masyarakat akan menjadi lebih mudah. Ini tentu menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung petani kembali menanam padi setelah terdampak bencana,” ujarnya.

Ia menambahkan, setelah infrastruktur tersebut selesai dibangun, berbagai persoalan aliran air yang sebelumnya terganggu akibat bencana diharapkan dapat teratasi sehingga produktivitas pertanian masyarakat dapat kembali meningkat.

Selain berada di lokasi bekas bencana, Heri menjelaskan bahwa sebagian paket pembangunan juga dilaksanakan di daerah yang tidak terdampak bencana.

Menurutnya, pembangunan pada wilayah tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan irigasi serta mendukung program percepatan tanam dan peningkatan produksi pangan di Kabupaten Agam.

“Sebagian lokasi memang berada di daerah yang tidak terdampak bencana. Pembangunan di lokasi tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan infrastruktur pendukung pertanian agar percepatan tanam dan peningkatan produksi pangan dapat terus dilakukan,” jelasnya.

Dinas Pertanian Kabupaten Agam berharap keberadaan pembangunan Dam Parit tersebut mampu memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat petani pascabencana.

Dengan dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian serta keterlibatan langsung kelompok tani dalam pelaksanaan pembangunan, proyek ini diharapkan menjadi salah satu langkah strategis dalam mengembalikan produktivitas lahan pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Agam. (RieL)

 

Pos terkait