Marawapost.com, Pasaman – Di tengah tekanan efisiensi anggaran, Pemkab Pasaman di bawah kepemimpinan Bupati Welly Suhery dan Wakil Bupati H. Parulian memilih tetap melangkah. Sepuluh Program Unggulan Pasaman Bangkit tidak dibiarkan berhenti sebagai slogan, tetapi terus dipastikan berjalan dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sekretaris Daerah Pasaman, Yudesri, menegaskan seluruh program dievaluasi secara berkala agar tetap tepat sasaran.
“Kita ingin memastikan semua program tetap on the track dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Pasaman,” ujarnya.
Evaluasi terakhir digelar di Balerong Pusako Anak Nagari, Rumah Dinas Bupati Pasaman, melibatkan seluruh kepala OPD dan Tim Percepatan Pembangunan. Dari sana, satu pesan ditegaskan: kerja harus berdampak.
Di bidang pembinaan generasi muda, program Wirid Remaja Bangkit mulai hidup di sejumlah kecamatan seperti Simpati, Bonjol, Panti, dan Rao Selatan. Surau dan masjid kembali menjadi ruang pembinaan karakter berbasis ABS-SBK, membangun moral sekaligus masa depan anak nagari.
Di sektor kesehatan, layanan berobat gratis dan ambulans SIGAP diperkuat. Pemerintah juga menyiapkan survei kepuasan masyarakat serta optimalisasi Rekam Medis Elektronik (RME) di RSUD Tuanku Imam Bonjol, demi pelayanan yang lebih cepat dan terintegrasi.
Di dunia pendidikan, program seragam sekolah gratis ditargetkan mulai diterima siswa baru pada Juli–awal Agustus 2026. Bagi banyak keluarga, kebijakan ini menjadi napas baru agar anak tetap bisa bersekolah tanpa terbebani biaya awal.
Melalui aplikasi “BAGUS” (Bajak Gratis Untuk Semua), Pemkab Pasaman menyiapkan dukungan akses bajak gratis bagi petani kecil, dengan target berjalan pada musim tanam Juni 2026.
Di sisi ketenagakerjaan, pemerintah telah menjajaki kerja sama dengan 12 lembaga penempatan kerja untuk membuka peluang di dalam dan luar negeri, mulai dari Batam hingga Jepang dan Jerman.
Sementara itu, ratusan rumah tidak layak huni telah dibangun atau dibantu, internet gratis mulai menjangkau puluhan jorong, dan Pusat Kreativitas Anak Nagari dibentuk di seluruh nagari sebagai ruang ekspresi generasi muda.
Upaya kesiapsiagaan bencana juga diperkuat dengan target menjadikan seluruh nagari sebagai Nagari Siaga Bencana, disertai penanaman ribuan pohon sebagai investasi lingkungan jangka panjang.
Di tengah keterbatasan, Pasaman memilih bergerak. Tidak semua bisa selesai dalam waktu singkat, tetapi arah perubahan mulai terlihat.
Pasaman Bangkit bukan hanya tentang infrastruktur.
Ia tentang petani yang kembali semangat mengolah sawah,
anak sekolah yang menanti seragam baru,
warga yang berharap ambulans datang tepat waktu,
pemuda yang kembali ke surau,
dan pemerintah yang hadir hingga ke nagari terjauh.
Satu tahun perjalanan ini menjadi penegasan bahwa membangun daerah bukan soal janji, melainkan keberanian untuk terus bekerja — dari nagari ke nagari.

