Marawapost.com, Pasaman – Tekanan fiskal dari pusat membuat ruang gerak keuangan Pemerintah Kabupaten Pasaman kian menyempit. Transfer dana memang tetap mengalir, namun belum cukup memberi napas panjang bagi daerah.
Kepala Badan Keuangan Daerah (Bakeuda) Kabupaten Pasaman, M. Yasrin Syahputra, Kamis (5/3/2026), mengakui kondisi tersebut berdampak langsung pada kemampuan daerah membiayai program prioritas.
“Karena kondisi di pusat seperti itu, kita di daerah juga ikut merasakan dampaknya,” ujarnya di Lubuk Sikaping.
Di tengah keterbatasan, Pemkab Pasaman tak ingin terus bergantung pada pusat. Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) kini menjadi agenda mendesak.
Bakeuda akan segera membentuk Tim Optimalisasi Penerimaan PAD yang melibatkan sejumlah OPD. Tim ini bertugas menginventarisasi potensi riil, termasuk mengkaji pemanfaatan aset daerah yang selama ini dinilai belum maksimal.
“Kita harus mencari sumber pendanaan baru agar ketergantungan kepada pusat bisa diminimalisir,” tegas Yasrin.
Tekanan anggaran datang di saat kebutuhan belanja tetap tinggi: pembangunan harus berjalan, pelayanan publik tak boleh tersendat, dan hak pegawai wajib dibayarkan. Situasi ini membuat Pemkab Pasaman dituntut bergerak cepat dan lebih kreatif menggali potensi daerah.
Yasrin pun meminta dukungan seluruh elemen, baik internal pemerintah maupun masyarakat, agar langkah penguatan PAD tidak berhenti sebatas wacana.
Di tengah ketidakpastian fiskal, Pasaman kini berada di persimpangan: bertahan dengan pola lama, atau berbenah menuju kemandirian keuangan daerah.

